Skip to main content

Ramadhan di Jepang

Published 2 min readMarkdown

Momen Ramadhan apa yang paling kamu rindukan?

Apakah itu shalat tarawihnya? Ngabuburitnya? Bukbernya? Sahurnya?
Apapun itu, ramadhan selalu menjadi momen yang sangat spesial dan identik dengan kebersamaan.

Kalau aku, ramadhan selalu menjadi momen aku untuk selalu bersyukur dan flashback.

Dulu tahun pertama di Jepang, aku menjalani Ramadhan terlama : sahur sebelum jam 2.30 pagi dan berbuka jam 7 malam. Puasa selama hampir 15 jam.

Demi puasanya lancar, aku hidup secara nocturnal. Kalau siang, selain kuliah, aku pasti tidur. Malam baru produktif, entah itu ibadah, belajar, ngerjain tugas, belanja. Kalau ga gitu, mungkin ga kuat.

Tapi mulai tahun kedua dan seterusnya, sudah mulai terbiasa, kadang setelah kuliah masih bisa part-time. Aku mencari part-time yang selesai sebelum maghrib. Waktu itu aku kerja sebagai asisten guru TK international di dekat masjid Okachimachi, jadi tiap selesai kerja biasanya bukber disana bersama orang dari berbagai negara.

Tahun ketiga karena tinggal di Sakura Muslim House yang lokasinya dekat sama Masjid Tokyo Camii, biasanya buka bersama disana bareng temen-temen yang lain. Kadang temen Jepang pun aku ajak makan disana.

Kok ga pernah ke Masjid Indonesia?
Soalnya lokasinya lumayan jauh, wkwk. Selain itu, lokasinya juga kurang strategis, agak jauh dari stasiun. Biasanya ke Masjid Indonesia cuma ketika shalat idul fitri atau kajian.

Tahun ke-4 dan ke-5, Ramadhanku agak menyedihkan. Aku pindah ke Gunma dimana jurusanku lokasinya di desa. Orang Indonesianya sedikit, hanya 2-3 orang, tapi ada beberapa muslim dari negara lain seperti Malaysia dan Pakistan.

Ada masjid kecil di dekat kampus yang ngelola orang Bengali. Kalau berbuka, dapat kurma dan bubur. Kalau kuingat lagi, waktu itu bener2 menyedihkan. Mau jajan juga ga ada restoran di desa. Ditambah lagi, aku juga depresi karena kesepian.

Disaat seperti itu, aku teringat dengan ramadhan di kampung halaman. Anak-anak bermain seusai shalat maghrib, adzan dan shalawat bersahutan di masjid kampung, teman dan saudara yang saling berkumpul.

Rindu.

Ternyata sejauh apapun aku pergi, jiwa ini selalu ingin kembali pulang.

Sekarang, sudah 5 tahun berlalu sejak saat itu. Alhamdulillah, aku kembali bisa merasakan ramadhan di tanah air, sudah berkeluarga jadi insyaa Allah ga kesepian, deket sama orangtua dan mertua, bisa makan makanan enak tiap hari. Aku pikir-pikir lagi, nikmat manalagi yang hendak ku dustakan... Alhamdulillah A'la kulli hal...

Kalau kamu, momen ramadhan apa yang kamu rindukan?

(34/100)

No comments yet. Be the first to comment.

More from this blog